Archive for July, 2005

Doakan Aku Kawan

Wednesday, July 13th, 2005

Doakan aku kawan…

Dalam beberapa bulan ini, di tengah kesibukan kerja di kantor yang hmmm… cukup berat sehingga kadang susah bernafas… hehehe

Sedikit demi sedikit mencoba menyelesaikan pr (pekerjaan rumah) tugas akhirku di pasca sarjana ITS. Sekitar bulan Juni, dengar kabar dari kawan Surabaya jadwal maju sidang adalah bulan Agustus, masih tenanglah kita, masih keburu.

Eh, ternyata jadwal tersebut dimajukan bulan Juli ini.. watuuhh…

Terpaksa beberapa hari ini ke Surabaya, cuti buat menyepi buat nyelesai-in pr itu. Sebel juga sih, kerja sampai larut malam, eh pagi. Tapi ndak papa, tenang saja.

Btw, doakan aku kawan, semoga kuat dan segera selesai serta lancar dalam sidang nanti.

Aku rasakan hal ini persis seperti jerawatku dulu yang  persis di atas hidung, selalu jadi beban! Semoga ‘jerawat’ itu lekas kempes dan dapat ‘berlari’ kembali mengejar Jakarta…

Bersyukurlah kawan!

Wednesday, July 13th, 2005

Kawan, di tengah kebiasaan Anda, pernakah Anda merenung akan nikmat yang selalu kita rasakan? Atau bahkan kita termasuk sebaliknya, selalu mendurhakai nikmat yang kita terima dengan selalu merasa kurang dan kurang?

Kawan, sederhana saja, kalau Anda adalah orang sudah memperoleh pekerjaan mapan, kira-kira berapa gaji Anda tiap bulan?

Ok, setelah itu coba hitung berapa lama Anda bekerja dalam satu bulan? lebih tepatnya berapa jam? Ok, ditentuin saja deh, satu hari kita kerja delapan jam, kalau satu minggu adalah lima hari kerja berarti satu minggu kita kerja 40 jam. Berarti dalam satu bulan kita kerja selama 160 jam.

Ok ambil 160 jam, terus hitung relatifitas gaji Anda tiap bulan, dan simple saja bagi gaji Anda tiap bulan dengan bilangan 160 jam tadi. Berapa rupiah yang Anda dapatkan per jam?!

Kawan, bersyukurlah, karena bisa jadi banyak orang, banyak masyarakat, banyak kaum yang pendapatan per jamnya masih di bawah Anda.

Maka bersyukurlah, mari melihat kenikmatan dengan kacamata masyarakat yang ada di bawah standart kita. Kalau kita terus melihat ke atas, akan selalu merasa kurang, dan hati-hati bisa kesandung!

Melihat ke atas bisa jadi hanya untuk spirit, jangan dijadikan acuan kehidupan sehingga kita selalu merasa kurang dan kurang!