Humor: Mari Kita Baca Pesan mBah Bejo
mBah Bejo sudah sakit-sakitan dan dibawa ke rumah sakit Jakarta, sudah tiga hari koma karena stokenya kambuh manakala perusahaannya bangkrut dengan banyak tagihan utang. Anak-anaknya menangis tersedu seolah menyerah pasrah bila mBah Bejo dipanggil ke hadirat Allah SWT. Selang infus sudah bergerak sangat lambat… tubuh mBah Bejo sudah tidak banyak bereaksi dengan cairan kesehatan itu.
Anaknya yang paling tua, Romlan berinisiatif memanggil pak Modin untuk membacakan doa-doa perpisahan, agar yang lagi sakit diberikan kemudahan, keikhlasan khas yang muncul, bila memang sudah ajalnya disegerakanlah dicabut nyawanya, bila belum ajalnya mohon segera diberikan kesembuhan.
Sore itu setelah Ashar, mBah Bejo dengan Romlan datang dengan membaca bacaan Yasiin dalam buku-buku kecil yang tipis. Satu per satu sanak saudara dibagikan buku bacaan tersebut. "Mari kita baca bersama dan berdoa untuk kemudahan mBah Bejo, bila sudah saatnya dipanggil agar segera dipanggil, bila belum saatnya semoga diberikan kesehatan", kata pak Modin lirih.
Sanak Saudara pun segera mengambil wudlu dan satu per satu sudah mengikuti bacaan pak Modin yang sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Terdengar suara-suara pelan tadarus surat Yasiin sambil sesekali diiringi isakan tangis, beberapa sanak saudara keluar ruangan karena tidak kuat menahan tangisan.
Ajaibnya, setelah bacaan Yasiin sudah mencapai di tengah, terlihat jari tangan mBah Bejo bergerak-gerak kecil, gerakan tanda kehidupan! Pardi, anak kedua mBah Bejo tersenyum memberi isyarat kepada kakaknya, mungkin dalam hati berujar, "Alhamdulillah…". Perlahan mata mBah Bejo mulai terbuka sedikit demi sedikit.
Lebih ajaib lagi setelah selesai membaca Yasiin bersama, perlahan mBah Bejo bisa menoleh untuk melihat sanak saudaranya yang di sekelilingnya, terlihat sanak saudaranya tersenyum dipaksakan. Setelah selesai membaca Yasiin bersama, pak Modin berdiri dari duduknya serta mendekat ke mBah Bejo untuknya memimpin doa, hadirin pun bersama-sama mengangkat tangan.
Ketika selesai membaca doanya, terlihat tangan mBah Bejo memberi isyarat untuk ingin menulis, "Sepertinya mBah Bejo ingin menulis pesan kepada sanak saudara sekalian, ini mBah pulpen sama kertasnya…", terdengar suara pak Modin sambil memberikan pulpen sama sesobek kertas.
Kertas itu dilipat beberapa kali dan ditaruh di saku pak Modin. Setelah menulis pesan tersebut, mBah Bejo terlihat kesulitan bernafas, tersengal-sengal dan beberapa detik kemudian terlihat mBah Bejo memejamkan matanya. Hujan tangis segera terdengar dalam ruangan itu, pak Modin pun segera mengelus-elus kepala mBah Bejo. Doa bersamanya terkabulkan, mBah Bejo diberi kemudahan untuk segera menghadap ke Ilahi Rabbi.
————————————–
Pada waktu proses pemakaman, ketika para pelayat (petakziah) dan sanak saudara mBah Berjo berkumpul untuk penghormatan terakhir. Pak Modin sudah selesai memandikan, mengkafani, dan menshalati sang mayat. Jizim mBah Bejo sudah siap diangkat, manakala cucu-cucunya melaksanakan tradisi bloblosan (berjalan menunduk melintas di bawah keranda yang berisi mayat untuk siap dikuburkan), pak Modin pun memberikan pengantar seperti biasanya.
Sejenak pak Modin terhenti, berpikir sejenak, dan mengucapkan, "Sanak saudara sekalian, saya teringat ada pesan mBah Bejo yang belum saya sampaian, pesan ini dibuat sesaat sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Mari kita baca bersama pesannya", kata pak Modin melalui pengeras suara.
Perlahan terlihat pak Modin mengambil kertas dari saku bajunya, membuka pelan-pelan lipatannya, dan siap untuk membaca, "hmmm… hmmm…", hanya itu yang keluar dari mulut pak Modin. Hadirin yang semula tertunduk perlahan memperhatikan apa yang terjadi pada tubuh pak Modin, pelan-pelan terlihat tubuh pak Modin terlihat gemetar, gemetar, dan gemetar, dan seketika pak Modin jatuh terjerembab setelah mik-nya terjatuh lebih dulu.
Hadirin pun tergopoh-gopoh untuk menolong pak Modin, Romli sang anak sulung wakil keluarganya, memberanikan diri untuk mengambil secarik kertas dan membacanya perlahan, isinya pesan Bapaknya, "Hee… Din … pak moddiinnn… minggirrr… selang nafasku kejepit tanganmuuu…".
Gedubrakkk…
Seperti yang juga ditulis di http://www.fleximania.com/blog/index.php?userId=MTkz