Archive for May, 2005

Tunggu

Tuesday, May 31st, 2005

Kanjeng Nabi dawuh dalam sebuah hadist, ‘barang siapa mencari muka di hadapan manusia dengan membelakangi Allah, maka tunggulah suatu masa di mana Allah akan menjatuhkannya di hadapan manusia’.

Hendaknya hadist ini dijadikan acuan untuk bermuamalah, berhubungan antar manusia dan bila ditarik sebagai konteks hubungan budaya bangsa, hendaknya menjadi acuan untuk saling menghormati antar bangsa. Dalam hadist menggunakan kata manusia, bukan muslim ataupun mukmin, artinya berlaku untuk semua manusia tidak terlepas suku bangsa ataupun agama.

Maka, ketika Anda korupsi dan merugikan banyak orang, tunggu suatu ketika Anda ditagih oleh Allah. Jangka pendek di dunia ketika Anda masih hidup, bersyukurlah kalau dibuka di dunia, karena Anda bisa bertobat, namun bagaimana kalau dibukanya setelah Anda meninggal? Na’udzubillah.

Tukang Perbaiki Payung

Tuesday, May 31st, 2005

Musim panas di perkampungan Jakarta, ada langkah gontai seseorang sambil bawa seonggok barang yang dipanggulnya.

Kudekati, ternyata dia menawarkan jasa memperbaiki payung.

Aku heran, di Jakarta yang harga payung sangat-sangat terjangkau, dan di musim panas tanpa hujan ini, ada orang yang nawarin perbaikan payung?

Masya Allah…

Berapa duit dia dapat dari memperbaiki payung, berapa orang yang mau memperbaiki payung di daerah Jakarta (daerah yang merasa payung jelek, lebih baik dibuang dan beli baru lagi), berapa jarak yang harus dia tempuh dengan berjalan kaki di tengah panas terik yang memancing haus? Aku heran.

Pelan aku dekati, aku bertanya, rumahnya di mana, mengapa tidak mencoba kerjaan lain yang peluang dapat uang lebih banyak?

Jawabnya singkat, aku bahagia dengan seperti ini, mungkin saya lebih bahagia dari sampeyan.

?

Terima Kasih untuk Bu Tajab dan Bu Sol…

Saturday, May 21st, 2005

Terima Kasih untuk Bu Tajab dan Bu Sol…
Kalau ada yang tanya sama kamu, siapa sih orang-orang yang berjasa bagi kamu? mungkin akan banyak variasi kali ya. Tapi karena ini blog ane, mestinya terserah ane donk mau cerita apa… hehehe…

Ini nih, orang-orang yang sangat-sangat berjasa bagi saya.
Pertama, guru sejati ane Rasul Muhammad yang setia selalu membimbing kita.
Kedua, Ibu, Ibu, Ibu dan Ayah saya.
Ketiga, Istri dan my little son, Hasyim Muhammad Kreshna ‘Ary, engkau berdua sumber spirit bagiku.
Ketiga, Nenek dan saudara sekeliling saya.
Keempat, semua orang yang berada di sekeliling ane, karena mereka saya ada.

Khusus untuk orang-orang yang ada di sekeliling saya, ada secercah memory yang tidak aku lupakan. Kepada Bu Sol dan Bu Tajab, dua ibu yang belum saya kenal yang dengan sabar mau meladeni keinginan cara makan saya (dan teman-teman) yang agak aneh. Aneh karena kekosongan kantong anak kost-kostan di Malang sewaktu di STM Moklet Malang.

Sarapan pagi separo porsi berupa nasi pecel, tahu ndak lo? Separo porsi nasi pecel itu besarannya hampir sama dengan satu porsi nasi pecel! Ini sih akal-akalan arek kost yang kepepet kantongnya. Tapi bukannya Ibu yang sabar-sabar itu tidak tahu, bahkan mereka dengan belas kasihan kadang menambahi ‘cuwilan-cuwilan’ daging atau tempe goreng, yah syukurlah buat tambah gizi… wahaha…

Saya tak tahu apakah sekarang mereka berdua masih sehat wal afiat ataukah wafat, terima kasihku dengan doaku untuk engkau berdua.

Seperti yang tertulis juga di http://www.fleximania.com/blog/index.php?userId=MTkz

Humor: Mari Kita Baca Pesan mBah Bejo

Saturday, May 21st, 2005

Humor: Mari Kita Baca Pesan mBah Bejo

mBah Bejo sudah sakit-sakitan dan dibawa ke rumah sakit Jakarta, sudah tiga hari koma karena stokenya kambuh manakala perusahaannya bangkrut dengan banyak tagihan utang. Anak-anaknya menangis tersedu seolah menyerah pasrah bila mBah Bejo dipanggil ke hadirat Allah SWT. Selang infus sudah bergerak sangat lambat… tubuh mBah Bejo sudah tidak banyak bereaksi dengan cairan kesehatan itu.

Anaknya yang paling tua, Romlan berinisiatif memanggil pak Modin untuk membacakan doa-doa perpisahan, agar yang lagi sakit diberikan kemudahan, keikhlasan khas yang muncul, bila memang sudah ajalnya disegerakanlah dicabut nyawanya, bila belum ajalnya mohon segera diberikan kesembuhan.

Sore itu setelah Ashar, mBah Bejo dengan Romlan datang dengan membaca bacaan Yasiin dalam buku-buku kecil yang tipis. Satu per satu sanak saudara dibagikan buku bacaan tersebut. "Mari kita baca bersama dan berdoa untuk kemudahan mBah Bejo, bila sudah saatnya dipanggil agar segera dipanggil, bila belum saatnya semoga diberikan kesehatan", kata pak Modin lirih.

Sanak Saudara pun segera mengambil wudlu dan satu per satu sudah mengikuti bacaan pak Modin yang sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Terdengar suara-suara pelan tadarus surat Yasiin sambil sesekali diiringi isakan tangis, beberapa sanak saudara keluar ruangan karena tidak kuat menahan tangisan.

Ajaibnya, setelah bacaan Yasiin sudah mencapai di tengah, terlihat jari tangan mBah Bejo bergerak-gerak kecil, gerakan tanda kehidupan! Pardi, anak kedua mBah Bejo tersenyum memberi isyarat kepada kakaknya, mungkin dalam hati berujar, "Alhamdulillah…". Perlahan mata mBah Bejo mulai terbuka sedikit demi sedikit.

Lebih ajaib lagi setelah selesai membaca Yasiin bersama, perlahan mBah Bejo bisa menoleh untuk melihat sanak saudaranya yang di sekelilingnya, terlihat sanak saudaranya tersenyum dipaksakan. Setelah selesai membaca Yasiin bersama, pak Modin berdiri dari duduknya serta mendekat ke mBah Bejo untuknya memimpin doa, hadirin pun bersama-sama mengangkat tangan.

Ketika selesai membaca doanya, terlihat tangan mBah Bejo memberi isyarat untuk ingin menulis, "Sepertinya mBah Bejo ingin menulis pesan kepada sanak saudara sekalian, ini mBah pulpen sama kertasnya…", terdengar suara pak Modin sambil memberikan pulpen sama sesobek kertas.

Kertas itu dilipat beberapa kali dan ditaruh di saku pak Modin. Setelah menulis pesan tersebut, mBah Bejo terlihat kesulitan bernafas, tersengal-sengal dan beberapa detik kemudian terlihat mBah Bejo memejamkan matanya. Hujan tangis segera terdengar dalam ruangan itu, pak Modin pun segera mengelus-elus kepala mBah Bejo. Doa bersamanya terkabulkan, mBah Bejo diberi kemudahan untuk segera menghadap ke Ilahi Rabbi.

————————————–

Pada waktu proses pemakaman, ketika para pelayat (petakziah) dan sanak saudara mBah Berjo berkumpul untuk penghormatan terakhir. Pak Modin sudah selesai memandikan, mengkafani, dan menshalati sang mayat. Jizim mBah Bejo sudah siap diangkat, manakala cucu-cucunya melaksanakan tradisi bloblosan (berjalan menunduk melintas di bawah keranda yang berisi mayat untuk siap dikuburkan), pak Modin pun memberikan pengantar seperti biasanya.

Sejenak pak Modin terhenti, berpikir sejenak, dan mengucapkan, "Sanak saudara sekalian, saya teringat ada pesan mBah Bejo yang belum saya sampaian, pesan ini dibuat sesaat sebelum beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Mari kita baca bersama pesannya", kata pak Modin melalui pengeras suara.

Perlahan terlihat pak Modin mengambil kertas dari saku bajunya, membuka pelan-pelan lipatannya, dan siap untuk membaca, "hmmm… hmmm…", hanya itu yang keluar dari mulut pak Modin. Hadirin yang semula tertunduk perlahan memperhatikan apa yang terjadi pada tubuh pak Modin, pelan-pelan terlihat tubuh pak Modin terlihat gemetar, gemetar, dan gemetar, dan seketika pak Modin jatuh terjerembab setelah mik-nya terjatuh lebih dulu.

Hadirin pun tergopoh-gopoh untuk menolong pak Modin, Romli sang anak sulung wakil keluarganya, memberanikan diri untuk mengambil secarik kertas dan membacanya perlahan, isinya pesan Bapaknya, "Hee… Din … pak moddiinnn… minggirrr… selang nafasku kejepit tanganmuuu…".

Gedubrakkk…

Seperti yang juga ditulis di http://www.fleximania.com/blog/index.php?userId=MTkz

Orang Bervisi Terdepan

Saturday, May 21st, 2005

Orang Bervisi Terdepan
Kehidupan itu hanyalah memilih dari beberapa pilihan yang ada.
Maka cara orang memilih dengan memperhitungkan akibat dan perkembangan beberapa waktu ke depan, disebut orang bervisi ke depan.
Semakin jauh waktu ke depan yang diantisipasi, semakin tinggi pula visi orang tersebut.
Namun, orang yang paling bervisi dalam menentukan suatu pilihan adalah, orang yang dalam menentukan pilihan memperhitungkan akibat di waktu paling jauh, yaitu hidup setelah mati di dunia.

Seperti juga ditulis di http://www.fleximania.com/blog/index.php?userId=MTkz

Gusti Allah Mboten Sare = Ihsan Statement

Saturday, May 21st, 2005

Gusti Allah Mboten Sare = Ihsan Statement Kalau sampeyan adalah orang Jawa (orang Jakarta nyebut kata Jawa) sebagai orang Jawa Tengahan dan Jawa Timuran, yah kurang lebih sama artinya dengan maksud kata ‘Jawa’ saya. Saya ulangi, kalau sampeyan orang Jawa seperti artian di atas, mungkin sampeyan pernah dengar ungkapan ‘Gusti Allah Mboten Sare’. Orang Jawa dalam mengungkapkan kemakhlukannya dan penghambaannya kepada Allah (Khalik = Sang Maha Pencipta) menyebutnya dengan tambahan sebutan ‘Gusti’. Ungkapan ‘Gusti Allah Mboten Sare’ dapat diartikan bahwa Allah tidak pernah tidur, dengan maksud pengungkapan adalah bahwa Allah tidak pernah tidur dan lalai dalam mengawasi gerak-gerik makhluknya. Dalam konteks keagamaan (Islam), bahwa pernyataan dan pengakuan bahwa Allah selalu mengawasi semua yang dilakukan makhluknya dengan harapan agar sang makhluk tetap setia beribadah dan bertakwa (menjauhi apa yang dilarang dan melaksanakan apa yang diperintah) kepada Allah dalam keadaan apapun, dilihat atau tidak dilihat oleh makhluk yang lain itu disebut dengan tingkatan Muhsin atau pribadinya disebut Ihsan. Artinya dalam konteks ajaran Islam yang dikulturkan dalam budaya Jawa, mengajarkan agar masyarakat atau orang yang mengaku beragama Islam harus senantiasa mampu dan mampu menjadi pribadi-pribadi shaleh yang Ihsan. Ihsan berada di atas tingkatan mukmin dan muslim. Bayangkan kalau konsep kultur Jawa yang Islami ini diugemi (dimengerti, dihayati, dan dilaksanakan), saya yakin korupsi di Indonesia akan dapat diberantas dengan baik. Semoga kita menjadi pribadi yang Ihsan dan selalu merasa kehadiran Allah SWT. Amien.

Seperti juga ditulis di http://www.fleximania.com/blog/index.php?userId=MTkz